Namanyadalah Abu Ishaq Ibrahim bin Adham, lahir di Balkh Darim keluarga bangsawan Arab.
Tokohtasawuf pada masa ini, antara lain : Ibn Arabi Beliau memiliki nama lengkap Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah Ath-Tha'I Al-Haitami Al-Andalusia. Beliau lahir di Murcia, Andalusia pada tahun 560 Hijriyah/ 1164 Masehi dan wafat pada tahun 638 Hijriyah. Ajaran tasawufnya yakni, Wahdah Al-Wujud (kesatuan wujud).
Beliauadalah seorang waliyullah, berasal dari keluarga kerajaan wilayah khurasan. Berkelana ke pedalaman arab kemudian ke Mekkah al-Mukarramah, disana ia bertemu dengan Sufyan Tsauri dan Fudhail bin 'Iyadh kemudian bersahabat dengan mereka. Ibrahim bin Adham mengais rezeki dengan bekerja sebagai pengetam atau penuai, berkebun dan lainnya.
Sufyanal-Tsauri dan Buqayyah bin Walid menceritakan bahwa Ibrahim bin Adham berasal dari Balkan lalu ia berpindah ke Syam dengan menanggalkan semua pakaian-pakaian kebesarannya untuk mencari sesuatu yang halal dan menjalani kehidupannya dengan penuh kezuhudan. Ia menetap di sana dengan keadaan sangat fakir.
Teorilain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan. Tokoh sufi lainnya yang hidup sejaman dengan Abu Hasyim al-Kufi adalah Ibrahim bin Adham (w. 165 H/782 M). Tokoh-tokoh yang memengaruhi tasawuf di Indonesia diantaranya adalah: Syamsuddin As-Sumatrani, Hamzah Al-Fasuri, Nuruddin Ar-Raniri
A Latar Belakang Masalah Kaum sufi telah merumuskan teori-teori tentang jalan menuju Allah. Yakni menuju kesuatu tahap ma'rifah (mengenal Allah dengan hati). Jalan ini diawali dengan riyadhah ruhaniyah yang secara bertahap menempuh berbagai fase yang dikenal dengan maqam (jamak dari maqamat) dan hal (jamak dari hal) yang berakhir dengan ma'rifah kepada Allah.
. loading...Lukisan Ibrahim bin Adham dikunjungi malaikat. Dibuat di Bengal, India Timur sekitar tahun 1790-1800, pelukis tidak diketahui. Foto/Ilustrasi KONON di negeri Irak memerintah seorang raja yang adil, Sultan Ibrahim bin Adham namanya. Dia memerintah dengan segala kasih sayang dan selalu memberikan karunia kepada hamba sahayanya yang berbuat oleh paham tasawuf yang dianutnya, dia lebih mengutamakan penyucian diri pada masalah duniawi yang pada pendapatnya bersifat tipuan dia meninggalkan istana dengan segala kemewahannya dan menyerahkan pemerintahan kepada Wazirul Alam, seorang wasir kepercayaannya. Dia pun masuk hutan dengan menyamar sebagai fakir dengan hanya membawa tongkat, pisau, kantung makanan, dan cincin menghabiskan waktunya untuk beribadah. Pada malam hari dia saIat, berzikir, dan bertahajud. Makanan dan minumannya diambil dari apa saja yang dapat diperolehnya di dalam hutan. Baca Juga Menembus ke IndonesiaKisah Ibrahim Adham ini menyebar tidak hanya sebatas dalam lingkup Persia. Ia bahkan jauh menembus hingga ke India dan Indonesia. N. Hanif, penulis buku Biographical Encyclopedia of Sufis in South Asia, memaparkan di Indonesia, Ibrahim Adham masuk ke tanah Jawa, Melayu, Sunda, dan Bugis. Meski demikian, N. Hanif menduga bahwa kisah Ibrahim yang masuk ke wilayah-wilayah tersebut datang melalui orang-orang Persia, bukan dari orang-orang Arab, dan isinya sudah tidak seperti sumber material yang asli, sudah banyak rekaan di dalamnya. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, dalam usaha mereka untuk melestarikan sastra Indonesia, pernah mengumpulkan hikayat-hikayat lama Melayu. Dan di antara kumpulan hikayat yang telah terkumpul tersebut, salah satunya ternyata adalah hikayat Sultan Ibrahim bin Adham. Meskipun dalam hikayat tersebut Ibrahim bin Adham disebut sebagai seorang “Sultan”, bukan “Raja”, namun jelas-jelas hikayat tersebut mengacu kepada orang yang sama, yaitu Ibrahim bin Adham. Baca Juga Kemungkinan hikayat ini masuk ke Indonesia ketika Dinasti Turki Ustmani sedang berkuasa. Meskipun Indonesia tidak berada di bawah daulah Turki Ustmani, namun dalam beberapa hal, minimal dari istilah-istilah yang dipakai, setidaknya Indonesia juga terpengaruh oleh tren yang sedang mengingat istilah “Sultan” dipopulerkan oleh Turki Ustmani, ketimbang menggunakan istilah “Raja”, orang-orang Indonesia lebih suka memakai kata “Sultan”, yang pada hakikatnya maknanya adalah sama saja. Sebagaimana dapat dilihat dari beberapa kerajaan di Indonesia atau Asia Tenggara, banyak raja yang lebih suka menggunakan gelar sultan ketimbang Indonesia sendiri, di masa modern mengakui, bahwa hikayat-hikayat Melayu tersebut sudah tidak seperti aslinya. Sebelum bangsa Melayu mengenal huruf yang berasal dari abjad bahasa Arab, sastra Melayu disebarluaskan dalam bentuk lisan, yaitu diceritakan oleh nenek atau ibu kepada anak cucunya pada saat-saat ada juga tukang cerita yang lazim dikenal dengan nama pawang atau peliput lara yang menyampaikan hikayat-hikayat tersebut pada saat masyarakat sedang melaksanakan acara-acara tertentu, seperti ketika sedang hajatan atau ketika sedang bersantai melepaskan penyebaran yang demikian itu membutuhkan kepandaian dan keterampilan pencerita membumbui ceritanya dengan berbagai cerita khayalan atau menyelip-nyelipkan jenis khayalan yang sesuai dengan selera para pelipur lara penuh dengan khayalan tersebut di antaranya mengenai kehidupan istana yang mewah, para dewa yang membantu manusia, para bidadari, serta cerita-cerita juga cerita tentang binatang yang mengandung ajaran budi pekerti. Ajaran itu diselipkan dalam pengkhayalan kehidupan binatang sebagai manusia. Kemudian ada cerita-cerita jenaka yang diisi dengan ajaran moral, yang terkandung dalam humor, sebagai ciri khas jenis cerita samping itu, terdapat juga cerita-cerita yang bernuansa Islam, seperti hikayat Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, Anbiya, dan Khandak, meskipun di dalamnya sudah ditambah-tambahi dengan khayalan si masa itu, sastra Melayu dipandang sebagai alat ajar yang berfungsi untuk menanamkan nilai sosial dan religius. Oleh karena itu, hikayat-hikayat itu secara terus-menerus disampaikan kepada orang lain, dari generasi kepada generasi bangsa Melayu mengenal huruf, mulailah cerita-cerita itu dituliskan menjadi naskah. Naskah-naskah itu mengalami pengutipan berkali-kali. Dan dalam setiap pengutipan tersebut terjadilah kebebasan untuk mengubah, menambah, atau mengurangi bahannya sesuai dengan selera masing-masing kemudian yang dapat menjelaskan mengapa kisah Ibrahim bin Adham di tanah Melayu berbeda dengan sumber aslinya serta memiliki berbagai varian atau versi. Baca Juga mhy
Ibrahim Ibnu Adham bin Mansur Ibnu Yazid Ibnu Jabir al-Ijli, dilahirkan di Khurasan tahun 112 H/730 M dan meninggal tahun 161 H/778 M di suatu benteng di daerah Romawi. Ia salah seorang tokoh sufi besar yang meninggalkan kehidupan duniawi, dan mengembara tanpa memiliki tempat tinggal yang tetap..Semula, Ibrahim bin Adham adalah seorang raja Balkh yang sangat luas daerah kekuasaannya. Ke manapun ia pergi, empat puluh buah pedang emas dan empat puluh buah tongkat kebesaran emas diusung di depan dan di belakangnya. Pada suatu malam ketika ia tertidur di kamar istananya, langit-langit kamar seolah-olah ada seseorang yang sedang berjalan di atas atap. Segera ia naik ke atas dan menemukan seseorang. “Apa yang kau cari di sini?” bentak Ibrahim bin Adham kepada orang itu. “Aku mencari ontaku yang hilang” jawab orang itu. “Apa anda tidak gila mencari onta dalam istanaku?” seru Ibrahim marah. “Ya seperti anda juga mencari Ttuhan di dalam kemewahan istana” jawab orang itu sambil melompat ke bawah dan kemudian tersebut amat membekas dalam diri Ibrahim dan merupakan titik awal dari perubahan pendirian dan kehidupannya. Untuk mencari ketenangan dan jawaban yang memuaskan hati dari peristiwa aneh itu, akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan istana. Dengan membawa piring, gelas, selimut dan bantal untuk dirinya sendiri. Ia meninggalkan istana yang gemerlap. Beberapa mil setelah meninggalkan istana, ia melihat seorang laki-laki menimba air dengan susah payah hanya menggunakan telapak tangan. Melihat orang itu, terkesan dalam hatinya, lalu ia segera membuang cangkir yang ada di tangannya. Di tengah-tengah perjalanan ia melihat laki-laki tertidur dengan menggunakan dua tangannya sebagai bantal. Melihat orang itu, segera ia membuang bantalnya. Didalam perjalanan berikutnya, ia melihat seorang laki-laki tanpa selimut sedikitpun, maka ia membuang selimut yang ada padanya. Dengan demikian, ia pergi tanpa membawa persiapan harta sedikitpun. Ia berkelana dari satu negeri ke negeri yang lain, mencari ilmu dan meraih hikmah untuk suatu tujuan utama yaitu menemukan kebenaran yang sejati dalam rangka menuju Tuhan. Ibrahim bin Adham pernah belajar kepada Imam Abu Hanifah dan sejumlah tokoh sufi di masanya, antara lain Abu Yazid al-Busthami. Selain itu, ia hidup dan pernah bertemu dengan banyak tokoh sufi di zamannya seperti Fudhail bin Iyadh, dan Sofyan ats-Tsauri. Perjalanan dan kajian-kajian tasawufnya ia lakukan dengan intens sampai ia bertemu dengan nabi Allah, Khidir AS..Tasawuf Ibrahim bin Adham dimulai dari berbagai pertanyaan yang bersumber dari al-Quran sendiri, sebagaimana yang tampak dalam surat al-Mukminun ayat 115 “apakah engkau kira bahwa kamu, Kami jadikan percuma ? dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini berlanjut dengan pertanyaan lain yang mendasar tentang makna dan hakikat hidup dan kehidupan. Jawaban-jawaban atas pertanyaan itu ditemukannya dalam perjalanan panjang dan mujahadahnya yang intensif, hingga dengan tenang ia meninggalkan jabatan dan istana yang gemerlap sampai beroleh ridha yang Ibrahim bin Adam, tasawuf adalah keindahan dan kebesaran menuju kepada Kebebasan Sejati. Karena itu tasawuf bukan suatu sistem yang keras dan kaku, bukan menekan diri dan perasaan, bukan membawa hidup susah dan bukan meninggalkan fitrah. Akan tetapi, tasawuf adalah membawa manusia kepada pilihan-pilihan yang benar, hidup zuhud, berlaku adil dan penuh keutamaan dalam kehidupan yang menanjak menuju kepada kesucian diri. Dengan pilihan itulah kita meninggalkan dunia hingga kita menjadi bin Adam tidak meninggalkan suatu karya. Meskipun demikian, ia tetap berpesan agar jangan berharap untuk menemukan hikmah tanpa hidup dalam taqwa, karena hikmah mamancar dari kebersihan dan ketaqwaan.
Beberapa riwayat mengatakan Ibrahim juga tercatat ikut serta dalam mempertahankan Benteng Thughur, yang terletak di utara Suriah dari serangan Byzantium JERNIH—Ibrahim bin Adham, yang terlahir dengan nama lengkap Ibrahim bin Adham Mansur bin Yazid bin Djabir Abu Ishak Al –Idjli, tergolong salah satu sufi pada periode paling awal sekali. Wajar bila namanya kerap terdengar dalam karya-karya mistis para sufi ternama, seperti Jalaluddin Rumi dalam “Masnawi” atau Fariduddin Aththar dalam “Manthiq Ath-Thayr”. Dilahirkan sebagai pangran Balkh, sebuah wilayah tempat lahirnya ajaran Buddha. Mungkin karena itu kisah pertobatannya kerap dihubungan dengan kisah pertobatan Sidharta Gautama. Kisah tentang kehidupan Ibrahim banyak tersebar, dan membuatnya terkenal. Sayangnya, banyak cerita kemudian bercampur mitos tanpa. “Biographical Encyclopedia of Sufis in South Asia” yang ditulis N. Hanif, literatur tentang Ibrahim bin Adham mengalami banyak perubahan ketika masyarakat mulai menerjemahkan kisah-kisah hidupnya dalam berbagai bahasa. Banyak di antara kisah tersebut yang mulai dibumbui dan akhirnya menjadi mitos. Beberapa penulis mencoba menelusuri silsilah Ibrahim bin Adham hingga ke Abdullah, saudara Ja’far al-Sadiq putra Muhammad al-Baqir, cucu Husain bin Ali, salah satu silsilah keluarga paling penting dalam sejarah Sufi. Namun sebagian besar penulis percaya bahwa silsilahnya berasal dari Umar bin Khattab. Sejarah kehidupan Ibrahim bin Adham dicatat oleh penulis besar abad pertengahan yakni Ibnu Asakir dan Bukhari. Riwayat tentang bagaimana pertama kali Ibrahim bin Adham memutuskan untuk meninggalkan semua kekuasaan yang dimilikinya adalah salah satu legenda yang sulit dipastikan keotentikan informasinya. Satu legenda yang paling terkenal adalah kisahnya yang ditulis al Sulami, yang mengisahkan bahwa awal perubahan terjadi dalam diri Ibrahim bin Adham setelah ia mengalami dua kali pertemuan dengan Nabi Khidir. Setelah peristiwa tersebut, Ibrahim langsung mengalami perubahan total dalam hidupnya. Ia melepaskan semua yang dimilikinya, dan mulai menempuh jalan ruhani sepenuhnya. Seperti Sidharta Gautama, Ibrahim bin Adham melakukan pengembaraan, meditasi perenungan dan hidup zuhud. Para sejarawan sepakat, bahwa sejak melepaskan singasananya, Ibrahim hijrah ke Syam. Tempat tinggalnya tidak tetap, dan sering berpindah. Ia menghindari mengemis atau memohon belas kasihan orang lain. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Ibrahim bekerja apa saja, mulai dari berkebun dan menjadi karyawan orang lain. Di Syam profil Ibrahim bin Adham sama sekali berbeda dengan sosok yang dikenal oleh masyarakat Khurasan tentang dirinya. Menurut N. Hanif, beberapa riwayat mengatakan bahwa Ibrahim juga tercatat ikut serta dalam mempertahankan Benteng Thughur, yang terletak di utara Suriah dari serangan Byzantium. Selain itu, ia juga tercatat ikut serta dalam dua ekspedisi militer, dan gugur pada ekspedisi militer kedua melawan Byzantium. Jenazahnya dikebumikan di wilayah kekuasaan Byzantium kala itu, dekat Benteng Sukin, atau Sufana. Riwayat lainnya menyebutkan bahwa beliau wafat dan dikebumikan di Mesir. Selain di kedua tempat tersebut, ada juga riwayat yang mengatakan bahwa makamnya terletak di Baghdad, di Damaskus, di Yerusalem, dan di Djabala, sebuah wilayah di tepi pantai Suriah. Kuat dugaan, banyaknya perbedaan pendapat tentang tempat pemakaman Ibrahim bin Adham juga dipengaruhi oleh luasnya legenda tentang Sang Sufi. Setelah meninggalkan singgasananya, Ibrahim bin Adham menjadi milik semua bangsa. Ia berjalan ke mana saja, dan menjadi legenda di tengah-tengah masyarakat. Sebagaimana layaknya para tokoh besar lainnya, ia menjelma menjadi bintang di segala kebudayaan, dan menjadi tautan mata masyarakat yang disinggahinya. Tak terkecuali, Ibrahim bin Adham bahkan menjadi bintang di dunia Sufistik. Namanya kerap muncul dan diceritakan oleh sufi-sufi besar setelahnya. Dari sekian banyak kisah tentang perjalanan hidup Ibrahim bin Adham, kisah yang disampaikan oleh Faridu’ddin Attar, dalam “Manthiq Ath-Thayr” Musyawarah Burung dan “Tadzkiratul Auliya”, agaknya cukup perjalanan hidup Ibrahim bin Adham setelah melepas singgasana dan menjalani hidup zuhud. Bahasa yang lebih tepatnya, ia “membeli kemiskinan” tersebut secara sengaja dengan semua apa yang dimilikinya. ** Seorang laki-laki selalu mengeluh tentang getirnya kemiskinan; maka Ibrahim Adham berkata padanya, “Nak, barangkali kau belum membayar harga kemiskinanmu itu?” Orang itu pun menjawab, “Betapa mustahilnya apa yang Anda katakan, mana mungkin seseorang membeli kemiskinan?” “Aku, “ kata Ibrahim,” Setidak-tidaknya telah memilih kemiskinan itu seharga kerajaan dunia. Dan aku masih akan membeli sesaat dari kemiskinan ini seharga seratus dunia.” Pernyataan itu erat dengan apa yang dinyatakan Allah dalam Al Quran Surat At Taubah Ayat 111, “Sesungguhnya, Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga sebagai balasan untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” *** Ddalam kitab “Hilyat al-Auliya” karya Abu Nu’aim, Said bin Harb bercerita, “Suatu ketika, Ibrahim bin Adham tiba di Makkah dan bertamu kepada Ali Abdul Aziz bin Abi Rawad. Syekh Ibrahim membawa kantong yang terbuat dari kulit Biyawak. Kantong itu ia gantungkan di sebuah gantungan. Lalu ia pergi untuk thawaf.” Pada saat bersamaan, Sufyan al-Tsauri, salah satu ulama perawi hadis dan juga seorang sufi, bertamu ke rumah Abdul Aziz. Syekh Sufyan melihat kantong milik Ibrahim bin Adham dengan pandangan heran. Ia bertanya kepada Abdul Aziz, “Milik siapakah kantong ini?” “Milik sahabatmu Ibrahim bin Adham.” Syekh Sufyan mendekati kantong dan memegangnya. Penasaran ia dengan isinya, dana mengira isinya adalah buah-buahan yang dibawa Ibrahim dari Syiria. Sufyan Tsauri yang penasaran akhirnya membukanya. Ia kaget manakala isinya ternyata tanah. Hanya tanah. Ketika Ibrahim bin Adham selesai thawaf dan kembali ke penginapan, Abdul Aziz menceritakan perbuatan Sufyan kepada Ibrahim. “Tadi temanmu, Syekh Sufyan ke sini. Dia penasaran pada isi kantongmu. Isinya ternyata hanya tanah. Apa benar, ya Syekh?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Begitulah adanya.” “Untuk apa?” Abdul Aziz ikut penasaran. “Itu adalah makananku sejak sebulan lalu.” Jawab Ibrahim. Abdul Aziz pun diam tak lagi bertanya. Di dalam riwayat lain, Abu Muawiyah al-Aswad bercerita, “Aku pernah melihat Ibrahim bin Adham memakan tanah selama 20 hari. Setelah itu, Ibrahim berkata kepadaku, “Wahai Muawiyah, seandainya aku tidak takut jiwaku diketahui orang-orang, tentu aku hanya akan makan tanah sampai tutup usia ketika aku menemui Allah. Sehingga rezeki halal bagiku benar-benar bersih. Dari mana pun asalnya.” Di dalam kitab “Hilyat al-Auliya” disebutkan alasannya, yakni agar apa yang dimakannya benar-benar dari sesuatu yang halal. Sebab dalam ajaran Islam, setiap makanan yang mengandung unsur haram kelak bisa menyalakan api di dalam neraka. Api itu akan membakar orang yang makan barang haram. [ ]
— Bagi para ahli tasawuf Abad Pertengahan hingga kontemporer, Syekh Ibrahim bin Adham bagaikan mata air. Dia termasuk yang paling awal mengamal kan dan mengajarkan laku sufi di tengah masyarakat. Di samping itu, konsistensinya dalam zuhud menjadi ciri khas tasawuf yang datang sesudahnya. Syekh Ibrahim bin Adham 718-782 merupakan seorang sufi yang berpengaruh besar dalam sejarah Islam. Tokoh yang berdarah Arab itu lahir di Khurasan, tepatnya Kota Balkh, kini bagian dari Afghanistan. Keluarganya menetap di wilayah tersebut setelah bermigrasi dari Kufah, Irak. Ibrahim bin Adham kerap dikisahkan sebagai seorang raja atau pangeran yang memilih zuhud. Walaupun nyaris tidak ada catatan sejarah yang pasti tentang hal itu, dapatlah dikatakan bahwa sosok tersebut memiliki kehidupan yang mapan di Balkh. Setelah bertobat, ia pun menjadi seorang pengembara untuk menjauhi hiruk-pikuk duniawi. N Hanif dalam bukunya, Biographical Encyclopae dia of Sufis of South Asia1999, mengatakan, ada beragam riwayat tentang pertaubatan sang mursyid. Salah satunya, sebagaimana dituturkan Fariduddin Attar dalam Tadzkiratul Auliya, menampilkan perjumpaan antara Ibrahim dan Nabi Khidir. Dalam narasi tersebut, sosok berjulukan Abu Ishaq itu diceritakan sebagai seorang raja Khurasan. Narasi lainnya dinukil dari Abu Bakr al-Kalabadhi dalam Kitab at-Ta'aruf. Pada suatu hari, Ibrahim mengajak prajuritnya untuk berburu di hutan. Aktivitas ini dilakukannya untuk senang-senang belaka, melepas penat dari rutinitas di istana. Tanpa disadari, kuda tunggangan yang ia pacu sejak tadi telah jauh meninggalkan prajuritnya. Ia terpisah dari mereka, jauh ke dalam hutan, menerobos rimbunnya pepohonan tembus ke satu padang rumput yang luas. Tanpa disadarinya, ia telah terpisah dari para pengawalnya. Seandainya kuda yang ditungganginya tidak jatuh tergelincir, barangkali Ibrahim akan tersasar lebih jauh lagi. Saat sedang berusaha bangkit, ia terkejut karena melihat seekor rusa tiba-tiba melintas di depannya. Ia pun dengan lekas menghela kudanya sembari mengarahkan tombak ke hewan tersebut. Sebelum melempar benda runcing itu, ia mendengar suara yang tertuju padanya, “Wahai Ibrahim! Bukan untuk itu kamu diciptakan. Bukan kepada hal itu pula kamu diperintahkan!” Awalnya, penguasa Balkh itu enggan mengacuhkannya. Pikirnya,mungkin suara itu hanya halusinasi. Begitu hendak meraih tombaknya, tiba-tiba suara yang sama terdengar lagi. “Wahai Ibrahim, bukan untuk itu kamu diciptakan dan bukan kepada hal itu pula kamu diperintahkan!” Ia pun menengok ke kiri dan kanan, tetapi tak seorang pun dilihatnya. “Aku berlindung kepada Allah dari godaan iblis,” ucapnya. Baca juga Mualaf Edy, Takluknya Sang Misionaris di Hadapan Surat Al Ikhlas Ia pun memacu lagi kudanya. Akan tetapi, teguran yang sama lagi-lagi terdengar. Ibrahim pun menghentikan langkahnya, Apakah ini sebuah peringatan dari-Mu, Tuhan? katanya bergumam. Putra bangsawan ini pun merasa, petunjuk Illahi telah menerangi hatinya. “Demi Allah, seandainya Dia tidak memberikan perlindungan kepadaku saat ini, pada hari-hari yang akan datang aku akan selalu berbuat durhaka kepada-Nya.” Sejak saat itu, lelaki dari Bani Bakar bin Wafil ini menekuni jalan salik. Segala kemewahan hidup ditinggalkannya.
“Kuduga engkau membeli kemelaratanmu dengan gratis,” komentar Ibrahim melihat hal itu. “Wah,” si pengemis takjub. “Apakah kemelaratan bisa dibeli?” JERNIH— Abu Ishaq Ibrahim bin Adham lahir di Balkh dari keluarga bangsawan. Ibrahim adalah penerus keluarga tersebut, dan sempat mengenyam kekuasaan dan aneka kenikmatan dunia, sebelum kemudian ia bertobat dengan pertobatan yang total. Ibrajim kemudian memasuki dunia tasawuf dan menjadi seorang sufi terkemuka. Banyak cerita tentang dan dari Ibrahim bin Adham. Beberapa di antaranya kami tulis ulang di bawah ini. Suatu hari ada yang bertanya kepada Ibrahim bin Adham,” Apa yang terjadi kepadamu sehingga engkau meninggalkan kerajaanmu?” “Suatu hari aku duduk di singgasanaku,” jawab Ibrahim. “Ada cermin yang didirikan di hadapanku; aku menatap cermin itu dan melihat bahwa aku tinggal di dalam makam, tanpa seorang pun yang aku kenal. Aku melihat perjalanan panjang di hadapanku, dan aku tak sedikit pun memiliki perbekalan. Aku melihat hakim yang adil, tetapi aku tak memiliki hujjah dan pembelaan. Aku mulai muak dengan statusku sebagai raja.” “Mengapa engkau melarikan diri dari Khurasan?” tanya mereka. “Di sana banyak kudengar tentang sosok sahabat sejati,” jawab Ibrahim. “Mengapa engkau tak emngambil seorang istri?”tanya mereka. “Apakah ada perempuan yang mau menerima suami yang terus membuatnya lapar dan telanjang?” “Tidak,” jawab mereka. “Itulah sebabnya aku tidak menikah,” kata Ibrahim. “Perempuan yang kunikahi akan terus lapar dan telanjang tanpa pakaian. Seandainya bisa, aku akan menceraikan diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku membebani orang lain?” Ibrahim berpaling kepada seorang pengemis yang ada saat itu, dan bertanya,” Apakah Engkau memiliki istri?” “Tidak,” jawab pengemis. “Punya anak?” “Tidak,” kembali dijawab pengemis. “Bagus…bagus,” kata Ibrahim. “Mengapa engkau menanyakannya?”tanya pengemis. “Pengemis yang menikah menaiki sebuah kapal. Ketika lahir anak, ia tenggelam.” *** Suatu hari Ibrahim melihat seorang pengemis meratapi nasibnya. “Kuduga engkau membeli kemelaratanmu dengan gratis,” komentar Ibrahim melihat hal itu. “Wah,” si pengemis takjub. “Apakah kemelaratan bisa dibeli?” “Tentu saja,” jawab Ibrahim. “Aku membelinya dengan kerajaan Balkh, dan aku dapat potongan harga.” *** Di dalam kitab “Hilyat al-Auliya” karya Abu Nu’aim, Said bin Harb bercerita, “Suatu ketika, Ibrahim bin Adham tiba di Makkah dan bertamu kepada Ali Abdul Aziz bin Abi Rawad. Syekh Ibrahim membawa kantong yang terbuat dari kulit Biyawak. Kantong itu ia gantungkan di sebuah gantungan. Lalu ia pergi untuk thawaf.” Pada saat bersamaan, Sufyan al-Tsauri, salah satu ulama perawi hadis juga sedang bertamu ke rumah Abdul Aziz. Syekh Sufyan melihat kantong milik Ibrahim bin Adham dengan pandangan heran. Ia bertanya kepada Abdul Aziz, “Kantong ini milik siapa?” “Kantong itu milik salah satu sahabatmu. Ibrahim bin Adham, Syekh.” Syekh Sufyan mendekati kantong lalu memegangnya. Ia penasaran dengan isinya. Ia terus melihat kantong itu dengan seksama lalu berkata, “Agaknya dalam kantong ini ada buah-buahan yang dibawa Ibrahim dari Syiria.” pikirnya. Syekh Sufyan bertambah penasaran dengan isi kantong itu. Dia pun menurunkan kantong dan membukanya. Ketika dibuka, dia kaget dan heran. Bagaimana tidak? Kantong yang dikiranya berisi buah-buahan itu ternyata isinya hanya tanah. Ya. Tanah. Entah untuk apa tanah itu. Maka Syekh Sufyan pun buru-buru menutup kantong lalu menggantungkannya lagi di tempat semula. Ketika Ibrahim bin Adham selesai thawaf dan kembali ke penginapan, Abdul Aziz menceritakan perbuatan Sufyan kepada Ibrahim. “Tadi temanmu, Syekh Sufyan ke sini. Dia penasaran pada isi kantongmu. Dia mengintip apa isi di dalamnya. Dia melihat isinya hanya tanah. Apa benar demikian, Syekh?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Begitulah adanya.” “Untuk apa, Syekh?” Abdul Aziz ikut penasaran. “Itu adalah makananku sejak sebulan lalu.” Jawab Ibrahim. Abdul Aziz pun diam tak lagi bertanya. Di dalam riwayat lain, Abu Muawiyah al-Aswad bercerita, “Aku pernah melihat Ibrahim bin Adham memakan tanah selama 20 hari. Setelah itu, Ibrahim berkata kepadaku “Wahai Muawiyah, seandainya aku tidak takut jiwaku diketahui orang-orang, tentu aku hanya akan makan tanah sampai tutup usia ketika aku menemui Allah. Sehingga rezeki halal bagiku benar-benar bersih. Dari mana pun asalnya.” Ibrahim bin Adham makan tanah bukan berarti dia tak mampu mencari makanan lain yang lebih lezat. Dia tokoh yang ternama di zamannya. Dia bisa mendapatkan makanan yang lezat. Tapi mengapa Ibrahim sampai makan tanah? Di dalam kitab Hilyat al-Auliya disebutkan alasannya. Dia berbuat seperti itu semata-mata agar apa yang dimakannya benar-benar dari sesuatu yang halal. Sebab dalam ajaran Islam, setiap makanan yang mengandung unsur haram kelak bisa menyalakan api di dalam neraka. Api itu akan membakar orang yang makan barang haram. *** Selepas menunaikan ibadah haji, Ibrahim ingin melanjutkan perjalanannya ke Masjid al-Aqsha. Ketika di sebuah perjalanan ke Yerussalem, ia mampir ke pasar dekat Masjidil Haram untuk membeli kurma pada seorang pedagang tua untuk bekal di perjalanan. Kurma yang selesai ditimbang lalu dimasukkan di keranjang Ibrahim. Setelah dirasa semua kurma sudah masuk di keranjang, Ibrahim melihat satu kurma tercecer persis di bawah timbangan. Ia mengira satu biji itu bagian dari kurma yang ia beli. Segera ia pungut dan memakannya. Setelah melahap ia berangkat menuju Masjid al Aqsha. Selang empat bulan kemudian, Ibrahim bin Adham tiba di Masjid Al Aqsha. Ia memilih ruangan di bawah Kubah Sakhra sebagai tempat favorit beribadah. Ia salat, mendaras Alquran, bermunajat dengan khusyuk. Di sela-sela ketika ia beribadah, telinganya menangkap suara dua malaikat bercakap tentang dirinya. “Itu dia Ibrahim bin Adham, seorang ahli ibadah, zuhud, dan wara yang doanya selalu dikabulkan oleh Allah Swt,” ujar satu malaikat. “Tetapi sekarang tidak. Doanya tertolak. Sebab empat bulan yang lalu ia memakan sebutir kurma di meja seorang pedagang tua yang bukan haknya,” jawab malaikat yang lain. Mendengar bisikan itu, seketika Ibrahim terkejut dan terhenyak. Ia teringat empat bulan yang lalu sebelum berangkat menuju Yerussalem, ia mampir membeli sekilo kurma di pasar dekat Masjidil Haram. Merasa ada yang janggal di hati dan pikirannya, ia bangkit mengemasi barang-barangnya dan pergi kembali ke Mekah untuk mencari pedagang kurma dan meminta keikhlasan sebutir kurma. Sesampainya di Mekah, di tempat pedagang tua berjualan dulu, yang ditemui bukanlah orang tua yang dulu berjualan, melainkan seorang pemuda belia. Ibrahim yang sedang mengalami kemelut di hati itu pun bertanya. “Empat bulan yang lalu saya membeli kurma di sini kepada seorang pedagang tua. Sekarang di mana dia?” “Itu Bapak saya, Syeikh. Dia meninggal sebulan yang lalu,”kata pemuda tersebut. “Innalillahi Wainna ilaihi rooji’uun, saya turut berduka cita atas kematian Bapakmu wahai pemuda. Kalau begitu kepada siapa saya bisa meminta penghalalan?” Ibrahim kemudian menceritakan detail peristiwa yang dialaminya. Sedang anak muda mendengarkan dengan seksama. “Nah, begitulah. Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur kumakan tanpa izinnya?” kata Ibrahim bin Adham setelah bercerita. “Bagi saya tidak masalah. Saya halalkan. Tapi saya masih memiliki saudara yang jumlahnya 11 orang yang mempunyai hak waris sama dengan saya,”ujar pemuda itu. Ibrahim yang berkeras mendapatkan rido atas sebutir kurma tersebut, meminta alamat masing-masing saudaranya. “Di mana alamat-alamat saudaramu, biar saya temui mereka satu persatu?”kata Ibrahim. Setelah menerima alamat, Ibrahim bin Adham kemudian pergi menemui mereka. Masing-masing didatangi, mengetuk pintu, dan ditemui tepat di depan rumah. Setelah seluruh keluarga itu telah menghalalkan sebutir kurma, Ibrahim pun lega. Dirasa semua permasalahan telah terselesaikan, Ibrahim kembali ke Masjid al Aqsha. Ia kembali menempuh empat bulan perjalanan ke Masjid Al-Aqsha. Sesampainya di sana, seperti biasa, ia memilih Kubah Sakhra sebagai tempat beribadah. Ia kembali bertakarub kepada Allah, dengan ritual salat, zikir, dan munajat. Tidak menunggu lama, di sela-sela ia berdoa, tetiba Ibrahim mendengar dua malaikat yang dulu sedang berdebat. “Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara-gara makan sebutir kurma milik orang lain,” kata seorang malaikat. “Oh tidak, sekarang doanya sudah kembali makbul. Ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas,”kata malaikat yang satunya lagi. [dsy] Dari “Tadzkiratul Auliya”, Fariduddin Aththar, Penerbit Zaman, 2018
ibrahim bin adham adalah tokoh tasawuf yang berasal dari